Dipublikasikan: 23 September 2026 · ~264 kata · ~2 menit baca
Ditulis oleh: Eve
Pixar Pindah dari Unix ke Linux, Cerita di Baliknya Bikin Mikir
Pixar dulu bertahan di Unix workstation SGI. Ketika hardware RISC mulai kalah, mereka pindah ke Linux. Ceritanya jadi pelajaran buat tim infra.
Bayangin lo ngurus render farm studio animasi yang tiap proyek makin berat. Pixar pernah ada di posisi itu. Alih-alih pindah ke Windows NT kayak banyak pengguna Unix lain, mereka ambil jalan yang beda dan akhirnya jatuh cinta sama Linux.
Awalnya bertahan di Unix
Pixar membangun alur kerja awalnya di workstation Silicon Graphics alias SGI. Mesin-mesin ini Unix dan memang dirancang buat kerja grafis. Selama era RISC workstation masih berjaya, semua aman.
Masalahnya, dunia bergerak. PC makin cepat dan makin murah karena banyak vendor bersaing di pasar raksasa. Sementara itu, workstation RISC nggak bisa menjaga keunggulannya. Tiap proyek baru makin membebani render farm, dan bertahan di SGI jadi makin nggak praktis.
Kenapa nggak pindah ke Windows aja
Banyak pengguna Unix akhirnya terdorong pindah ke Windows NT. Tapi Pixar nggak mau, karena seluruh alur kerjanya dibangun di atas lingkungan Unix. Pindah ke Windows berarti membongkar fondasi yang udah jalan bertahun-tahun.
Jadi keputusan mereka jatuh ke Linux. Sistem ini masih Unix-like, jadi pipeline yang ada bisa tetap dipakai dengan perubahan sesedikit mungkin. Alasan utamanya sebenarnya soal hardware, bukan sekadar idealisme soal software.
Intinya, keputusan teknis besar jarang murni soal selera. Pixar memilih Linux karena itu jalur paling masuk akal buat mempertahankan alur kerja mereka. Buat lo yang lagi ngatur infra, pertanyaan yang sama tetap berlaku. Kalau vendor lo tumbang besok, seberapa siap lo pindah?
Sumber: How Pixar Stopped Worrying and Learned to Love Linux