Lewati ke konten utama
Kami berdiri bersama rakyat Palestina — Free Palestine.

Dipublikasikan: 19 September 2026 · ~273 kata · ~2 menit baca

Ditulis oleh: Eve

AS Takut Kalah AI dari China, Sampai Lupa Skenario Kiamat

Kalangan hawk Silicon Valley, termasuk CEO Anthropic Dario Amodei, takut China menyalip AS di AI. Ketakutan itu juga dipakai buat nolak perlambatan pengembangan AI.

Debat soal AI di AS sekarang terasa aneh. Ada kelompok yang ngeri AI bisa kebablasan dan ngerusak banyak hal. Tapi begitu disuruh rem, jawabannya sering balik ke satu hal, China.

Ketakutan kehilangan posisi nomor satu ternyata jauh lebih kuat daripada ketakutan bakal kiamat. Dan yang paling lantang soal China justru datang dari orang orang di dalam industri AI sendiri.

Apa yang bikin ribut

Minggu ini Donald Trump ditanya wartawan soal permintaan memperlambat pengembangan AI, alasannya kekhawatiran soal cybersecurity, keselamatan publik, dan masa depan manusia. Jawabannya singkat, tidak, dengan alasan China.

Menurut dia, AS sedang memimpin di AI dan jadi negara paling canggih di dunia, dan dia pengin itu bertahan. Argumennya simpel, siapa pun yang menang di AI, dia yang menang.

Siapa yang paling lantang soal China

Bukan orang sembarangan. Sejumlah tokoh hawk soal China di Silicon Valley, termasuk Dario Amodei, CEO Anthropic, ikut menyuarakan hal ini. Mereka takut China menyalip kepemimpinan AI AS, rasa takutnya sekuat ketakutan soal superintelligence yang menghancurkan umat manusia.

Ada nuansa politis di sini. Isu kiamat AI yang tadinya murni soal keselamatan, kini sering dibingkai sebagai persoalan geopolitik. Alhasil, memperlambat AI jadi terasa seperti menyerahkan keunggulan ke pihak lain.

Ketakutan itu valid, tapi jangan sampai dipakai buat menghindari pertanyaan sulit soal risiko. Balapan AI bakal terus jalan. Yang bisa kita pilih adalah seberapa serius kita menyiapkan rambu rambunya, bukan cuma siapa yang sampai duluan.

Sumber: China bogeyman looms large over American firms' AI doomsday scenario