Dipublikasikan: 21 Juni 2026
Epoll vs Io_uring: Dua Raja I/O di Linux, Mana yang Lebih Cocok Buat Proyek Lo?
Dua pendekatan I/O di Linux ini punya kelebihan masing-masing. Buat yang sering ngutak-atik server performa tinggi, ini wajib lo baca.
Kalau lo kerja di backend development atau ngurusin server yang butuh performa I/O tinggi, pasti nggak asing sama perdebatan antara epoll dan io_uring. Dua-duanya adalah mekanisme I/O event notification di Linux, tapi pendekatannya beda banget.
Epoll udah jadi standar sejak lama, sementara io_uring adalah pendatang baru yang dibikin buat ngatasin kelemahan epoll. Tapi bukan berarti epoll langsung obsolete, ya. Masing-masing punya case use yang beda.
Epoll si Tua yang Terbukti
Epoll adalah mekanisme I/O multiplexing yang udah ada sejak kernel 2.6. Cara kerjanya dengan notify event ke aplikasi kalau ada file descriptor yang siap dioperasikan. Kelebihannya: mature, stabil, dan didukung di hampir semua bahasa pemrograman. Tapi kekurangannya, setiap operasi I/O butuh syscall, yang bikin overhead makin gede pas skala besar.
Io_uring si Pendatang dengan Pendekatan Baru
Io_uring hadir di kernel 5.1 dan bawa pendekatan yang rada beda. Alih-alih pake syscall buat setiap operasi, io_uring pake shared ring buffer antara user space dan kernel space. Hasilnya? Latensi jauh lebih rendah dan throughput lebih tinggi, terutama buat workload yang butuh banyak operasi I/O kecil secara paralel. Cocok banget buat database, file server, atau aplikasi high-performance computing.
Nggak ada yang salah pilih antara epoll dan io_uring, asal lo tau kebutuhan proyek lo. Epoll untuk kestabilan dan kemudahan, io_uring untuk performa gila-gilaan. Dua-duanya penting buat dipahami, apalagi kalau lo serius di dunia backend engineering.
Sumber: Epoll vs. Io_uring in Linux